KISAH NYATA PENGALAMAN - PENGALAMAN BERPOLIGAMI
Kisah Pengalaman 1
Bismillah
Afwan ana mau cerita sedikit perihal rencana pernikahan ana dengan R2
2 minggu yg lalu ana nadzor dengan calon R2 dan ana merasa cocok sehingga ana memutuskan utk melanjutkan, 3 hari kemudian ana ajak istri ana utk bertemu dan berkenalan dengan calon madunya dan Alhamdulillah istri ana juga cocok dan kami memutuskan utk menikah tgl 6 September ini.
Ana sdh booking tempat utk akad di salah satu rumah makan khas Arab yg ada di cibubur dan sekaligus sudah ana DP 50% sesuai kesepakatan, dan ke esokan harinya ana mencari satu rumah kontrakan dan Alhamdulillah dapat di cluster kebetulan tdk jauh dari rumah, kantor dan Ma'had tempat ana beraktivitas, dan besoknya ana belanja keperluan rumah tempat tidur, AC, TV, kulkas, kompor dll lengkap sudah isi rumah tsb.
Besoknya istri ana jalan sama calon madunya utk belanja keperluan seserahan sampai sore dan akhirnya lengkap keperluannya, dan ana mendaftarkan ke KUA utk mendapatkan sah secara negara dan Alhamdulillah sdh di daftrkan dan di jadwalkan tgl 6 akan ber akad dan tinggal tggu hari H nya.
Qodarullah tadi ba'da Shubuh ana di kabarkan calon R2 mundur dari rencana pernikahannya kami padahal semua sdh di persiapkan dengan matang dan sdh 99%, lalu ana berfikir ini yang menurut Alloh terbaik buat ana dan ana pun Terima dengan lapang dada, tapi yg agak kasian istri ana kelihatannya agak menyesali keputusan calon madunya utk mundur tanpa ada alasan yg jelas.
Demikian cerita singkat ana artinya semua yg sdh kita rencanakan dan menurut kita baik blm tentu menurut Alloh baik
Tapi tetap semangattt berpetualang lagi.
Ridwan abu Athallah
+628 122 354 562 XXX
Komentar:
"Jangan kuatir yang terpenting adalah kita mau jujur sama Allah kemudian sama pasangan, mesti akan ada jalan keluar akan segala hajat". Memang rata-rata problem pembatalan datang dari pihak keluarga besar calon, ini real dari pengalaman pribadi ana".
Kisah Pengalaman 2
AKU, SUAMIKU DAN DIA
Aku harus berpoligami. Harus, tak boleh tidak.” Suamiku berkata dengan nada suara keras dan tegas.
Itu sudah sering diungkapkan olehnya. Setidaknya satu bulan terakhir ini.
Oo ya kami baru menikah 3 tahun, dan baru dikaruniai seorang anak berusia 1, tahun. Aku berasal dari keluarga miskin, demikian juga suamiku. Aku dilahirkan dan sesar di sebuah desa kecil, antara kota Sleman dan Muntilan, Jawa Tengah. Suamiku berasal dari Wonosobo.
Kami menikah saat usia kami sama-sama 26 tahun. Kami berasal dari satu almamater di Jogjakarta. Kami sudah sama-sama menggondol S1. Karena selama 4 tahun kami mengaji di majelis ilmu yang sama, lalu diantara kami ada ketertarikan kemudian menikah.
Saat menikah kami tak bermodal sama sekali. Suamiku belum memiliki pekerjaan. Bahkan untuk mengontrak rumahpun, kami mendapat bantuan keuangan dari keluarga besar kami.
Untuk walimah pernikahan? Jangan tanya. Kami menikah hanya dengan akad sederhana, dan mengundang beberapa orang dan tetangga saja. Yang terpenting, nikah kami sah secara hukum, dan secara administrasi kenegaraan. Soal pesta, tak kami pikirkan sama sekali.
Setelah menikah, suamiku berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari dengan modal ijazah S1 nya, namun tak juga beroleh hasil.
Kebetulan bidang yang dikuasainya juga sangat jarang yang membutuhkannya. Kalaupun ada perusahaan akan menuntut pengalaman kerja bertahun-tahun, dan tentu saja suamiku belum punya.
Suamiku berusaha untuk berjualan, mengikuti temannya. Tapi tampaknya ia tak berbakat di dunia bisnis. Berkali-kali ia ikut berdagang, dan justru selalu saja mengecewak an orang lain.
Akhirnya kami banyak hidup dari belas kasihan orang lain. Uniknya suamiku seolah-olah tak merasa bersalah sama sekali. Hany aku yang sering menanggung malu. Betapa tidak karena setiap hari kami pergi –seringkali berjalan kaki– ke rumahteman-teman suamiku secara bergantian. Kami sengaja berlama-lama di rumah mereka, sehingga datang waktu makan. Setelah itu baru kami pamit, dan pergi ke rumah teman suamiku yang lain. Tak jarang sebagian mengetahui kondisi kami sehingga saat pulang kami diberi ongkos. Hal itu berjalan hingga satu tahun lebih.
Kalu sudah tidak nyaman pergi ke rumah teman-temannya, suami akan mengajakkku menginap satu atau dua pecan di rumah orang tuanya, atau di rumah orang tuaku. Setelah itu, ke rumah kerabat-kerabatnya. Begitu seterusnya.
Sebagai wanita tentu rasa malu ku lebih kentara. Menjalani kehidupan rumah tangga seperti itu, selain menyebalkan, juga menebalkan muka ku. Bisa para pembaca bayangkan, betapa malunya aku, saat setiap hari harus menumpang makan di rumah orang. Dan bagaimana pula ketika akhiornya banyak dari sahabat suamiku akhirnya mengetahui kebiasaan kami itu.
Memang tak pernah mendapat penolakan. Mereka juga selalu menyambut kami dengan suka cita. Apalagi dalam budaya Jawa, menerima tamu itu adalah kehormatan. Aib bagi mereka kalau harus menolak kedatangan kami, atau membiarkan kami tanpa dihormati.
Setelah 1,2 tahun kami menjalani pernikahan, suamiku diterima mengajar di sebuah SDIT. Meski jauh dari yang dimauinyatapi kami menerima tawaran itu dengan suka cita. Mimimal kami punya penghasilan bulanan. Meski jumlahnya tidak seberapa.
Dari situ kami mulai bisa makan di rumah sendiri, ya setelah lebih satu tahun menikah. Tentu saja hidup kami masih sangat kekurangan. Jangan berpikir untuk bisa membeli pakaian atau peralatan rumah tangga. Sekadar untuk makan tanpa meminta kepada orang lain saja itu sudah lumayan. Dan aku sudah sangat mensyukurinya.
Karena setidaknya aku tak lagi harus menanggung malu pergi ke sana kemari, hanya untuk menumpang makan. Aku sedik it bernapas lega.
1,7 tahun sudah suamiku mengajar di SDIT tersebut. Gajinya dinaikkan sedikit. Kini kami bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membeli keperluan primer lainnya, termasuk pakaian, juga kebutuhan alat-alat masak dan sejenisnya.
Tapi datang pula hal lain yang merisaukan hatiku. Suamiku sedang berhasrat kuat untuk berpoligami.
Kebetulan di pengajian, ustadz kami sering membahas persoalan tersebut. Dari berbagai penjelasannya ssuamikumemahami bahwa poligami itu adalah sunnah. Intinya bahwa setiap muslim disunnahkan untuk berpoligami.
“Orang yang tidak berpoligami, itu pengecut,” ujar ustadz kami.
Simak saja firman Allah:
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا
maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An Nisaa: 3)
“Nah, seorang muslim yang gak berpoligami, berarti ia penakut…”
Ungkapan itu disampaikan dengan canda, tapi ditanggapi dengan begitu serius oleh jama’ah pengajian. Terutama kaum prianya. Berderai tawa mereka mendengar seloroh ustadz kami tadi.
Ini memang pemahaman keliru yang cenderung fatal yang difahami oleh sebagian kaum muslimin, di lingkungan pengajian. Banyak anggapan beredar bahwa poligami itu memang disunnahkan secara khusus. Padahal, asal hukum poligami hanyalah mubah, diperbolehkan, dengan syarat mampu berlaku adil.
Memang hukumnya bisa bervariasi, seperti halnya menikah. Tapi pada sebagian kaum muslimin, poligami dianggap sebagai syariat khusus, disunnahkan secara spesifik, sehingga setiap mereka berjuang keras untuk bisa beristri lagi, tanpa memperhatikan kemampuan, tanpa mencermati situasi dan kondisi. Bahkan mengabaikan sama sekali pendapat dan keadaan istrinya!!!
Itu pula yang terjadi di lingkungan pengajia n kami, terutama akibat dari berbagai nasihat wejangan salah kaprah dari ustadz tadi. Kalaupun ada ustadz-ustadz lain yang member penjelasan poligami secara lebih komprehensif, malah justru kurang diminati dan tak ditanggapi secara layak.
Sehingga sebagai akibatnya, kebanyakan hadirin terprovokasi untuk berlomba-lomba menikah lagi termasuk suamiku.
“Aku harus berpoligami. Harus tak boleh tidak. “ Itu yang kini sering dikampanyekannya.
“Tapi mas keadaan kita masih seperti ini? Untuk kehidupan sehari-hari kita bertiga saja, sudah kepayahan…”
“Dik rezeki itu Allah yang menentukan. Setiap mulut, sudah ada jatahnya sendiri-sendiri. Kamu kan dengar penjelasan ustadz kemarin?”
“Aku tahu. Sebagai wanita kamu cenderung menolak syariat poligami, kan?”
“Enggak, mas…”
“Lalu apa?”
“Sebatas yang pernah aku baca, berpoligami itu kan ada syaratnya…”
“Berlaku adil kan? Darimana Adik bisa tahu, kalau aku bukan tipikal orang yang bisa berlaku adil?”
“Bukan soal itu mas.”
“Lalu?”
“Poligami itu bisa berbeda-beda hukumnya. Dan pelaksanaannya juga harus dibangun di atas dasar kemaslahatan rumah tangga secara umum. Artinya, harus dilakukan dengan penuh perhitungan. Bila menimbulkan mudharat, lebih baik tidak diamalkan. Kecuali dalam kondisi darurat…”
“Ah itu hanya alasan mempersulit jalan menuju poligami kan? Menurut yang kupahami, poligami itu adalah hukum asal dari pernikahan. ‘Nikahilah 2, 3 atau 4 bagi yang betul-betul berlaku adil?”
“Tapi perintah ‘nikahilah’ itu kan ada di depan, dan cukup satu saja, itu ada di belakang?”
Tapi dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir edisi terjemahan, bukan begitu penjelasannya, Mas. Di situ dijelaskan seperti yang kukatakan tadi…..”
“Sudahlah, bilang saja, bahwa kamu menolak di poligami…”
“Tidak sejauh itu, Mas….”
“Sudahlah, pokoknya aku harus berpoligami. Titik.”
Aku terdiam.
Selama hampir sebulan, suamiku selalu bicara soal poligami. Yang lebih hampir membuatku tak nyaman, seringkali ‘ustadz’ mampir ke rumah kami, dan membahas soal keinginan suamiku berpoligami. Mereka s eolah-olah tak lagi memperdulikan perasaanku sebagai wanita. Guru dan murid itu, begitu nyamannya mengobrolkan poligami, seolah-olah aku tak ada di dekat mereka!!
Akhirnya, suamiku ditawari oleh ustadz tsdi seorang muslimah dari Purworejo. Ia kini tinggal di Jogja, ia tinggal bersama kakak kandungnya, ia lulusan SMU di Purworejo, dan tidak malanjutkan kuliah. Tapi membantu sang kakak menjaga toko busana muslimah di rumah kakaknya tersebut.
O ya, itu sudah yang ketiga kalinya, suamiku ditawari. Yang pertama, ia tidak setuju, karena kurang menyukai calon yang disodorkan. Dua kali selanjutnya, suamiku mau, namun gagal karena kedua orang tua si gadis, tak mau putrinya dinikahi sebagai isteri kedua.
Nah, kali ini klop sudah. Mareka berdua sepakat untuk menikah, dan kedua orang tua si gadis juga merestuinya. Meski mereka pun tahu, kondisi perekonomian kami yang empot-empotan.
Persoalannya, si gadis juga berasal daris keluarga tak berpunya. Hanya kakak kandungnya yang sedikit berada. Selain dosen. Ia juga juga punya usaha kesil-kecilan di rumahnya. Selebihnya, saudara-saudaranya semua hidup di bawah garis kemiskinan.
Tentu saja itu bukan hal yang membuatku tidak menghargainya sama sekali. Tapi, aku sangat mengkhawatirkan kehidupan kami, terlebih secara nyata kami hidup serba kekurangan. Bila dengan satu rumah tangga saja demikian, apalagi dengan dua orang istri? Aku bingung dibuatnya.
Tapi pernikahan itu tetap dilakukan. Sama dengan saat menikah denganku, akad dilakukan secara sederhana saja. Dan lagu pun mendendang kembali. Untuk mengontrak rumah pun, suamiku harus pinjam sana pinjam sini.
Rumah kontrakan maduku itu, tak jauh dari tempat tinggalku, kebetulan aku dan suamiku sekarang mengontrak secara gratis, fasilitas dari tempat suamiku mengajar. Tapi kini kami harus berpikir keras untuk mencari biaya sewa rumah, buat istri baru suamiku.
Tapi Alhamdulillah antara aku dan maduku, tak terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Kami bisa saling memahami, dan berusaha membangun saling pengertian. Kami juga saling mengunjungi, hampir setiap hari. Kadang kami masak bersama, dan melakukan segala hal bersama.
Tapi persoalan memang datang dari hal-hal yang sudah kami duga sebelumnya. Kini suamiku harus berpikir keras untuk memenuhikebutuhan kami. Gaji sebagai guru SDIT, tentu tak cukup buat makan dan memnuhi kebutuhan kami bersama.
Masalahnya suamiku juga bukan tipe pekerja keras. Meski berasal dari keluarga tak punya, orangtuanya dulu seorang pegawai negeri sipil. Sehingga ia hnaya tahu pola kerja sebagai pegawai sebagai cara mencari nafkah. Sudah tak punta bakat berdagang, semangat bekerjapun masih sangat mengkhawatirkan.
Di SDIT, suamiku pun sering mendapat teguran, karena mangkir mengajar. Bila ditanya, alasannya sedang tidak focus, bingung memikirkan keluarga. Tapi kenyataannya setiap kali tidak mengajar suamiku hanya tidur-tiduran di rumah saja.
Aku juga malu ketika pihak sekolah sering datang ke rumah, dan mempertanyakan soal jadwal mengajarnya yang kian hari kian sering kosong. Padahal gaji bulanan selalu dibayar penuh tepat waktu.
“Kalau bapak gak bisa mengajar lagi, tidak masalah. Kami akan cari guru pengganti. Tapi kami butuh kepastian..” itu ucapan yang terakhir kali dilontarkan guru SDIT, di rumah kami. Betapa malunya diri ini. Saat itu gilirannya tidur di rumahku.
“Saya masih ingin mengajar pak. Tapi saya memang sedang tidak mampu berkonsentrasi..”
“Ya pak kami pribadi bisa mengerti. Tapi kasihan ank-anak sering kosong pelajarannya. Para wali murid juga sudah mulai mempertanyakan soal itu..”
“Ya Insya Allah saya akan segera aktif kembali..”
Tapi janji itu tinggal janji. Suamiku tetap saja malas. Dia lebih sering banyak mengobrol dengan teman-temannya, membicarakan rencana bisnis yang tidak pernah kesampaian.
Aku tahu suamiku bukan tak mau berusaha. Hanya saja ia terlalu idealis. Seringkali ia mengungkapkan konsepnya yang melambung-lambung tentang bisnis, tapi di areal yang sulit dijangkau oleh kemampuan kami sekarang ini. Dan aku pun tahu bahwa kecakapan suamiku di soal bisnis, hanya pada tataran teorit is saja. Sehingga, dari hari ke hari ia tak juga menggeluti usaha apapun. Padahal, kebutuhan kami kian hari kian bertambah.
Dan yang ku khawatirkan terjadi juga. Pihak SDIT memecat suamiku. Meski itu dilakukan dengan bahasa yang santun, melalui surat resmi dan secara langsung di depan suamiku di kantor sekolah, tapi tetap saja kami shock. Aku dan maduku juga semakin ketar-ketir.
Bayangkan saja, anakku kini sudah 2 tahun lebih. Kebutuhannya sudah semakin banyak. Maduku sekarang juga sedang mengandung. Ia juga butuh asupan makanan yang lebih layak. Sementara penghasilan suamiku satu-satunya yang begitu kami harapkan –meski jauh dari mencukupi- kini melayang sudah. Pikiran kami kalut.
Anehnya suamiku terlihat biasa-biasa saja.
“Insya Allah ada rezki dari arah yang tidak disangka-sangka…” suamiku berdalih lagi.
Ia mulai mencari pekerjaan lain, dengan membantu berdagang sate. Itu berlangsung 2 bulan. Tapi, karena juga berkali-kali mangkir, ia kembali diberhentikan.
Ia juga pernah ikut ngerneti truk tetangga. Hanya bertahan satu bulan, ia sudah kembali berhenti.
‘Ga tahan dengan kondisi kehidupan para supir truk. Menyeramkan,” ujar suamiku saat menceritakan pengalamannya sebagai kernet.
Satu tahun sudah, semenjak berhenti sebagai pengajar di SDIT, suamiku berlari dari satu usaha ke usaha yang lain. Tapi ujungnya nyaris sama: kalau tidak diberhentikan karena malas, berhenti sendiri tanpa sebab yang jelas.
Maduku kini sudah dikaruniai seorang anak lelaki manis, berusia 4 bulan. Anakku sendiri udah berusia 3 tahun. Kehidupan kami kembang kempis tak karuan. Kami sering bertemu, dan saling mengeluhkan kondisi kami. Kami tahu, mungkin tak pantas kami berkeluhkesah seperti ini. Tapi ini realitas yang tak dapat kami pungkiri. Suami kami terbukti tak mampu menghidupi kami secara layak, dan tak terlihat gigih mencari rezeki demi penghidupan kami.
Maka hasil pertemuan selalu kami sampaikan sebagai saran kepada suamiku. Tapi ia nyaris tak menggubris usul-usul kami. Termasuk, melamar lagi ke SDIT, di mana ia pernah meng ajar dahulu. Karena kini kami harus mengontrak rumah dengan biaya kami sendiri, sementara penghasilan kami juga tak jelas.
“Kalau bapak masih mau mengajar di sini, tidak masalah. Kami terima dengan terbuka. Asalkan bapak bisa disiplin mengajar, seperti guru-guru yang lain…” ungkap kepsek SDIT tersebut, saat aku dan maduku berkunjung ke sana.
Tapi saat itu kami sampaikan ke suami kami, ia menolak.
“Aku malu mengajar di sana lagi. Tak usah saja…”
“Tapi kita butuh penghasilan…”
“Tidak harus mengajar kan kita bisa cari usaha lain…”
Sebagai wanita, kami tak bisa berbuat lebih. Kami pernah memberi usul, bagaimana kalau aku yang mengajar di SDIT tersebut? Suamiku justru marah luar biasa.
“Sebagai wanita muslimah yang baik, kamu harus menjaga pergaulan. Di SDIT itu, kamu sulit menjaga pergaulanmu dengan para pengajar pria…”
Aku pun terdiam.
Maduku memberi usul untuk membuat kue, dan ditawarkan ke warung-warung. Suamiku juga menolak.
“Wanita, lebih baik di rumah saja…”
Kami kembali terbungkam.
Hari-hari berlalu dengan nada yang sama: kesusahan. Suamiku tak kunjung memperoleh pekerjaan layak, atau yang ia tekuni dengan baik. Banyak yang menawarkan pekerjaan untuknya, tapi kadang ia tolak, ataupun jika diterima dan digeluti sebentar, lalu berhenti lagi.
Sebagai wanita kami juga penuh kekurangan. Kami sempat ‘membocorkan’ kondisi keluarga kami, kepada satu-dua orang muslimah, teman mengaji kami. Terus terang, kami terpaksa bercerita untuk mencari solusi dan pemecahan. Tapi hingga kini belum juga terlihat jalan keluarnya.
Aku maupun maduku pernah sesekali berinisiatif untuk mundur, maksudku biarlah aku pisah dari suamiku. Tapi maduku justru menawarkan hal yang sama, biar dia saja yang dicerai, agar aku bisa hidup layak bersamanya. Tentu saja aku tak setuju.
Lama bergaul dengannya, di antara kami sudah terjalin tali kasih. Aku sayang kepadanya. Aku tak ingin ia menderita. Sebagaimana dia pun tak mau diriku merana Tapi para pembaca sekalian, apa yang dapat kami lakukan?
Kami ingin semua berbahagia. Dan kami selalu berusaha untuk bersabar dan tabah menjalani segalanya. Tapi sampai kapan?
Kondisi kami kian hari kian memburuk saja. Meski tak kuyup prahara, tapi kami mulai merasakan gelegar derita. Percikan-percikan kecil duka yang makin hari makin menggemuruh, dan membuat kami makin tak punya daya.
Pembaca sekalian, BUKAN KAMI MENOLAK DIPOLIGAMI. Tapi bila beginilah yang harus terus kami alami, lambat laun, wajarlah, bila kini kami mulai membencinya.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah: 216)
selesai nukilan.
Komentar:
"Kisah yang kedua ini jangan dijadikan patokan, silahkan menilai diri masing-masing".
Kisah Pengalaman 3
AKU PRIA YANG BERPOLIGAMI
Aku menikah muda. Kala itu, usiaku tak lebih dari 19 tahun dan baru saja lulus SMU. Wanita yang kuperisteri saat itu bahkan baru 16 tahun. Ia hanya lulus SLTP, karena keluarganya pun seperti keluargaku, miskin, tak punya cukup biaya untuk menyekolahkan anaknya lebih tinggi.
Namaku Arman, dan isteriku Salimah. Kami tinggal di sebuah dusun, yang termasuk wilayah sebuah desa kecil, di sisi barat Jawa.
Di desa kami, usia seperti kami bukanlah usia muda untuk menikah, minimal untuk ukuran pada masa itu. Pada zaman sekarang, ukuran itu memang sudah mengalami dinamika. Makin sedikit saja pasangan muda yang menikah. Berbanding lurus dengan makin banyak pula wanita-wanita yang telat menikah. Meski jumlahnya tak sebanyak di kota-kota besar.
Kami menjalani pernikahan dengan segala suka duka yang kami alami. Latar belakang kami dari keluarga yang cukup religious, meski tradisional. Dalam arti, kami masih terbiasa hidup dalam nuansa yang menggabungkan nilai-nilai religi Islam, dengan adat tradisional. Orang Sumatra menyebut kami dari kalangan kaum tua.
Aku kurang begitu mengerti soal itu. Meski setelah beberapa tahun menikah, aku mulai sedikit mendalami agama melalui beberapa orang ustadz, di musholla dekat rumah. Lewat mereka, aku mulai dikenalkan dengan upaya banyak ulama untuk menjernihkan agama dari pengaruh bid’ah dan khurofat. Aku sangat memahami paparan-paparan mereka. Tapi, tentu sulit bagi keluarga kami, untuk meninggalkan berbagai tradisi nenek moyang yang sudah lama kami jalankan. Meski kami tahu, sebagian di antaranya berbau kemusyrikan. Wal ‘iyyaadzu billah.
Kedua orang tuaku, yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan kami di desa yang sama, juga mengikuti perkembangan tersebut. Mereka juga sepertiku, sulit meninggalkan tradisi lama kami. Tapi, minimal aku mengerti, bahwa mereka tidak lagi apatis terhadap pemahaman-pemahaman seperti yang disampaikan oleh para ustadz secara bergiliran, di musholla kami itu. Meski kecil, tapi cukup membanggakan, karena setidaknya ada 2 taklim dalam sepekan.
Selain dua majelis itu, kadang beberapa ustadz senior di desa kami yang berpemahaman kaum tua, juga ikut mengisi. Wajarlah, bila akhirnya sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan jama’ah yang hadir. Pro dan kontra.
Aku tidak akan berbicara banyak soal itu. Aku hanya ingin menceritakan kepada pembaca, tentang perjalanan hidup rumah tangga kami.
***
Tak terasa, sudah 10 tahun kami berumah tangga. Umurku kini menginjak 30 tahun, sementara isteriku 26 tahun. Kami sudah dianugerahi 3 orang anak. Yang sulung sudah 9 tahun.
Selama satu dasawarsa tersebut, di antara kami sudah terjalin saling pengertian yang cukup manis. Setidaknya, begitulah dalam pandangan kami. Mengingat banyak teman yang menikah di rentang usia mirip dengan kami, tapi rumah tangganya terbilang kacau balau. Sering mengalami percekcokan yang nyaris tak berujung. Bahkan tak sedikit yang akhirnya bercerai, hanya setelah 3 atau 4 tahun menikah.
Kegamangan pertama rumah tangga kami, terjadi beberapa bulan lalu, saat hamper masuk tahun ke sebelas pernikahan. Ibunda Salimah, yang sangat dicintai dan mencintai isteriku meninggal dunia. Usianya baru 48 tahun. Beliau wafat karena penyakit paru-paru yang tak kunjung sembuh. Dan kami memang tak punya cukup uang untuk melakukan perobatan secara rutin dan memadai. Meski bagaimanapun, semua itu sudah taqdir, dan kami tabah menerimanya.
Walau begitu, isteriku tetap dilanda kesedihan sedemikian rupa. Meski tak menimbulkan prahara dalam rumah tangga, tapi sontak ia berubah menjadi pendiam. Di antara 6 bersaudara –yang kesemuanya sudah menikah dan punya anak-, ia memang yang paling disayang sang ibu. Karena sangat disayang itulah, isteriku menjadi anak yang paling terpukul oleh meninggalnya beliau, berbeda dengan saudara lainnya, yang meskipun bersedih, namun tak terlihat mengalami kegoncangan berarti.
Kesedihan bertambah, saat aku diberhentikan dari perusahaanku. Di situ, aku memang hanya bekerja sebagai satpam. Tanpa aku tahu sebabnya, ada pengurangan jumlah tenaga sekuriti, dan aku termasuk yang di-PHK. Alasan mereka, sebagian besar satpam yang ada adalah veteran tentara. Mereka lebih membutuhkan pekerjaan itu dibanding diriku.
Yah, apa mau dikata. Aku menjadi satpam memang hanya bermodal sabuk hitam karate yang kumiliki. Ijazah relative tak dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Akhirnya, aku menganggur beberapa bulan. Namun, Alhamdulillah, aku kembali diterima sebagai sekuriti di perusahaan lain yang lebih kecil, dengan gaji yang tentunya juga lebih sedikit. Tapi aku menerimanya dengan senang hati.
Kedukaan, ditambah dengan kondisi perekonomian keluarga yang semakin surut, membuat rumah tangga kami mengalami masa-masa kritis. Keramahtamahan dan keakraban kami ulai berkurang. Meski, kami bukan tipikal suami isteri yang senang bertengkar. Nyaris tak pernah terjadi percekcokan di antara kami, kecuali dengan hanya ‘marah-marahan’ kecil saja.
Saat itu, aku semakin rajin mengikuti taklim pekanan, terutama hari selasa malam. Isteriku juga ikut serta, bersama banyak warga kampong yang memenuhi musholla kecil itu.
Kajian malam itu membahas tentang keluarga sakinah. Suatu saat, pembahasan menyentuh soal poligami. Aku dan isteriku, cukup terperanjat. Baru saat itu, kami memahami bahwa poligami dalam Islam ternyata begitu kompleks pembahasannya. Selama ini aku hanya mengetahui bahwa pria muslim diperbolehkan melakukan poligami, dengan syarat mampu berlaku adil. Ternyata, hukum poligami juga beragam, tergantung pada situasi, kondisi –baik pribadi maupun orang lain yang ikut terlibat dalam praktik poligami tersebut-, dan banyak hal lainnya.
Di situ, Ustadz MZ juga menjelaskan bahwa banyak orang yang melakukan poligami, tanpa mengikuti aturan, adab, dan etika berpoligami yang ada dalam Islam, sehingga justru menimbulkan citra buruk di masyarakat. Aku terperangah. Ya, tak sedikit kenyataan seperti itu, yang juga aku saksikan pada banyak pelaku poligami.
Padahal, secara umum poligami itu dibenarkan syari’at, meski hokum asalnya adalah mubah dengan syarat. Jadi diperbolehkan saja, tak sampai dianjurkan. Namun bisa berbeda-beda hukumnya, tergantung bagi siapa dan dalam kondisi bagaimana.
Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin menjelaskan,
“Poligami disunnahkan bagi orang yang mampu melakukannya dan bertujuan untuk menjaga kemaluannya serta pandangan matanya dari maksiat, selain juga untuk memperbanyak keturunan dan untuk memotivasi masyarakat Islam agar melakukan perbuatan serupa –dengan tujuan-tujuan yang sama-, sehingga mereka tidak perlu lagi melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Alloh. Mereka bisa menggunakan poligami untuk memperbanyak generasi Islam dan memperbanyak orang-orang yang beribadah kepada Alloh di muka bumi, atau untuk tujuan-tujuan baik lainnya.
Dalilnya adalah firman Alloh (artinya),
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita alin yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” {QS. An-Nisaa’:3}
Demikian juga firman Alloh (artinya),
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri teladan..” {QS. Al-Ahzaab: 21}
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam sendiri memiliki beberapa orang isteri, dan beliau selalu bersikap adil di antara mereka. Beliau pernah berkata,
“Yaa Alloh, inilah yang bisa kulakukan, maka janganlah Engkau mencelaku karena sesuatu yang tidak mampu kulakukan.” Dikeluarkan oleh ashhaabus sunan denga sanad yang shohih. MAksudnya, bahwa sikap adil itu wajib sebatas yang mampu dilakukan oleh manusia, seperti memberi nafkah, mengatur giliran bermalam dan sejenisnya. Adapun cinta kasih dan ‘hubungan seks’, bukanlah sesuatu yang berada dalam kemampuan manusia untuk menciptakannya.
Sesampainya di rumah, aku dan isteriku mendiskusikan kembali soal poligami tersebut. Aneh, isteriku juga menanggapinya tidak dengan dingin, bahkan seringkali ditimpali canda tawa. Biasanya, umumnya wanita tak tertarik membahas poligami. Karena biasanya juga, ketika membayangkan suaminya akan memadu dirinya, sudut pandangnya pada poligami otomatis jadi tidak jelas, cenderung berbaur sinisme. Bahkan ada yang sontak memarahi suaminya, hanya karena secara tak sengaja menyinggung-nyinggung topik poligami. Meski belum terbersit keinginan untuk melakukannya!
Hingga larut malam, kami sibuk membahas soal-soal poligami, yang bagi kami menarik, dan banyak hal yang tak kami ketahui sebelumnya tentang topik ini.
“Kalau aku dipoligami, gimana ya?” tiba-tiba isteriku berkata begitu. Aku terperangah.
Aku sendiri, tak pernah berpikir soal poligami. Apalagi, kondisi perekonomian kami yang seperti ini, membuatku tahu diri untuk sekedar memampirkan topik poligami ke dalam benakku.
“Wah, memangnya kamu mau?”
“Gak tahu ya. Aku hanya membayangkan, kalau aku hidup bersama suami dan maduku , gimana ya?” Ia mengatakan itu, sambil tersenyum lebar. Aku jadi ikut geli melihatnya.
Lewat tengah malam, pembicaraan kami terhenti. Dan setelah itu –aneh sekali- hubungan kami menjadi cair lagi. Seolah-olah kedukaan yang merambati hati isteriku dalam beberapa bulan ini, pupus sama sekali. Hari-hari selanjutnya, kembali kami lalui dengan suasana bahagia. Betapa sejuk dada ini.
*****
2 bulan setelah itu, ada hal yang mengejutkan buat kami. Isteriku, didatangi tamu seorang wanita berusia 34 tahun. Berarti empat tahun lebih tua dariku, dan 8 tahun lebih tua dari isteriku.
Ia juga sudah beberapa bulan mengikuti pengajian di musholla kami. Ia berasal dari desa sebelah, hanya 1 kilometer dari rumah kami. Isteriku juga sudah sering berjumpa dengannya di pengajian. Ia dating dengan hijab sempurna (setidaknya menurut ukuranku). Ukuran jilbabnya lebih lebar dari jilbab isteriku.
Selama hampir dua jam, ia berada di kamar bersama isteriku. Mereka terlibat obrolan panjang, yang kadang diselingi dengan tawa ringan. Terlihat betul keakraban mereka. Padahal setahuku mereka belum lama saling mengenal. Bahkan ini pertama kalinya wanita itu dating ke rumahku. Isteriku sendiri, meskipun supel, tapi tak pernah begitu mudah mudah menjadi akrab dan berbicara begitu lepas seperti saat ini.
Di luar, di ruang tamu, aku duduk sendirian sambil membaca buku. Tak lama, wanita itu keluar. Ia menghadap ke arahku yang berada di pojok ruangan, di atas kursi, dengan membentuk kedua tangan bersalaman dari jauh.
“Saya pamit pulang dulu, Mas Arman…” Ujarnya lembut.
“O ya, ya, silahkan…”
Sepulang wanita tersebut, isteriku berhambur ke ruang tamu. Ada senyum tersungging di wajahnya.
“Kenapa, kok senyum-senyum gitu. Menang arisan ya?”
“Enggak, kok mas. Lagi senang aja…”
“Senang kenapa?”
“Mas, kamu saying sama aku gak?”
“Loh, kok pake nanya kayak gitu. Ya saying dong.”
“Begini. Tapi janji, mas jangan marah ya?”
“Ada apa dulu?”
“Pokoknya janji dulu, gak marah, baru aku ngomong.”
“Oke, aku janji.”
“Begini, mas. Menyambung obrolan kita malam itu…”
Hatiku tiba-tiba merasa aneh.
“Sepertinya, aku mau mewujudkan apa yang aku bilang waktu itu…”
“Maksudmu?”
“Bagaimana, kalau mas menikahi mbak Ratna yang tadi bertamu ke sini?”
Dadaku kini berdegup.
“Dia masih gadis dan perawan, Mas. Sampai sekarang belum menikah. Wajahnya lumayan cantik kan, Mas, gak kalah denganku? Aku mau, Mas menikahinya untukku…”
“Maksudmu..”
“Ya. Aku mau, Mas berpoligami. Tapi bukan dengan wanita lain, dengan mbak Ratna itu. Aku merasa cocok dengannya, Mas. Aku juga ingin membantunya, kasihan dia gak nikah-nikah seusia itu. Padahal, yang mau sama dia banyak. Tapi, tadi dia bilang, dia mau kalau yang menikahinya adalah Mas…”
Mataku berkunang-kunang. Perasaanku campur aduk. Aku kehilangan kata untuk menjawab tawaran isteriku yang begitu tiba-tiba, dan sama sekali tak pernah terpikir olehku.
“Jangan khawatir, Aku rela kok, dia menjadi maduku, Mas.”
“Kenapa dia mau aku nikahi?” Kini aku balik bertanya.
“Gak tahu juga, Mas. Tapi yang jelas, saat melihatmu keluar bersamaku dari pengajian, dia kok merasa tertarik ingin menjadi isteri Mas. Makanya, ia memberanikan diri berbicara denganku tadi…”
“Tapi, aku belum pantas berpoligami, Adinda…”
“Justru karena Mas berpendapat begitu, aku malah bersuka hati menawari Mas untuk berpoligami. Kalau Mas begitu getol ingin kawin lagi, aku malah jadi khawatir..”
Wah, aneh. Tak terpikir sedikitpun, kalau aku akan terjebak dalam suasana begini. Isteri yang kucintai, dan selalu hidup bersamaku dalam susah dan senang, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba memintaku untuk berpoligami.
“Tapi, lihat saja, ekonomi kita sedang begini. Dalam kondisi baik saja, kita hidup miskin dan kekurangan. Bagaimana mungkin aku beristeri lebih dari satu? Kamu ini aneh, Adinda..”
“Ah, soal itu gak perlu khawatir, Mas. Kami tadi sudah mengobrolkannya. Kebetulan, mbak Ratna ini juga lumayan berkecukupan. Ia sudah memiliki rumah sendiri, sudah punya mobil meskipun sederhana, Ia juga punya mini market loh…”
Isteriku berbicara panjang lebar soal Ratna, dan aku hanya mendengarkan dengan patuh. Aku tak bisa berkata-kata. Sulit menjabarkan suasana hatiku saat itu. Karena yang berbicara adalah isteriku. Kalau orang lain, mungkin aku tak ambil peduli sama sekali.
“Kalau mau menikahinya, Mas diminta untuk mengelola mini market miliknya, untuk sumber penghasilan bersama…”
“Tapi jangan salah sangka, Mas. Aku mau Mas menikahinya, bukan karena dia kaya. Tapi aku justru ingin menolongnya. Kasihan, sudah usia 34 tahun, tapi ia belum juga menikah. Tapi, karena kondisinya demikian, bagiku akan lebih mudah merealisasikannya…”
Sampai di situ, aku masih terbungkam. Ketika isteriku menanyakan pendapatku, aku hanya bilang, agar ia menunggu hingga esok hari, karena aku betul-betul kebingungan. Bukan aku tak tertarik dengan Ratna. Apalagi, bila menikahinya justru atas permintaan isteri sendiri. Tapi, aku memang betul-betul blank saat itu.
Semalaman aku tak bisa memejamkan mata. Jam tiga dini hari, aku bangkit dari pembaringan, dan melakukan sholat malam. Aku berdo’a, memohon pilihan kepada Alloh. Satu malam itu, aku tak tidur sama sekali.
Pagi harinya, aku mengajak isteriku ke rumah orang tuaku, dan juga menemui bapak isteriku. Kepada mereka, aku menceritakan permintaan isteriku itu. Tanpa diduga sama sekali, mereka semua setuju. Akhirnya, dengan ringan hati, aku pun menerima tawaran isteriku tersebut…
*****
Aku pun kini beristeri dua. Aku berpoligami, di saat aku betul-betul tak menginginkannya, bahkan tak pernah memikirkan sebelumnya. Setelah menikahi Ratna, aku baru tahu bahwa ternyata keberadaan isteri keduaku itu menjadi obat buat isteriku, atas kematian ibundanya. Satu hal yang tak pernah kubayangkan pula sebelumnya.
Bagi isteriku, Ratna bisa menjadi teman mengobrol, kawan curhat, dan berbagi kasih, seperti yang biasa ia lakukan bersama ibunya. Ratna bisa menjadi pengganti ibunya, dalam dimensi yang sama sekali berbeda tentunya, namun memberikan suntikan rasa yang sama: senang dan bahagia.
Semenjak kami berpoligami, kehidupan rumah tangga kami justru semakin semarak, meriah, dan penuh keceriaan. Isteriku sekarang bahkan terlihat jauh lebih berbahagia, ketimbang saat-saat kami masih hidup berdua, sebelum ibunya wafat. Sering kami berpergian bersama, mengunjungi karib kerabat dari pihakku, pihak Salimah, atau pihak Ratna.
Aku tak lagi bekerja sebagai satpam. Aku sibuk mengurus bisnis keluarga yang Alhamdulillah berjalan dengan baik. Aku tak tahu, apa lagi yang bisa aku ungkapkan kepada pembaca sekalian. Yang jelas, aku tak bisa menyarankan siapapun untuk mengambil langkah, seperti yang aku lakukan. Karena bisa jadi, kondisi kita tak sama, atau bahkan jauh berbeda. Tapi yang jelas, POLIGAMI telah menjadi salah satu sumber kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kami. Terserah, anda setuju atau tidak.
selesai nukilan.
Komentar
Posting Komentar